Senin, 21 Juni 2010

Etika dalam Kajian Filsafat

I. PENDAHULUAN
Filsafat sering dikatakan sebagai pangkal ilmu pengetahuan. Munculnya filsafat etika menurut Imanuel Kant adalah sebagai jawaban atas pertanyaan: Apakah yang boleh kita lakukan? Memang etika sering diistilahkan dengan ajaran moral,tapi sebenarnya adalah berbeda. Ajarean moral maksudnya adalah ajaran-ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindakagar ia menjadi manusia yang baik. Sedangkan etila merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan moral.
Jadi etika mempunyai kurang dal lebihnya dari ajaran moral. Kurangnya karena etila tidak berwenang untuk menetapkan apa yang boleh atau ntidak kita lakukan. Lebih, karena etilka berusaha untuk mengerti atas dasar apa/mengapa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu.
Sebenarnya etika merupakan salah satu cabang dari aksiologi yang mempelajari tentang masalah baik atau buruk. Etika baru dapat dilatakan sebagi suatu disiplin ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat yang seringkali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sisremaris dan metodis.
Objek yang dipelajari dalam etika adalah tingkah laku arau perbuatan manusia yang itu menjadi obyek material. Sedangkan obyek formalnya adalah kebaikan dan keburukan, bermoral atau tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tingkah laku moral dapat diketahui dari tiga macam pendekatan/metode, yaitu
1.Etika Deskriptif
merupakan cara pelukisan tingkah laku moral dalam arti luas. Etika deskriptif ini mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan, atau sub kultur tertentu. Oleh karena itu ertika deskriptif adalah netral karena hanya paparan bukan memberikan penilaian.
2. Etika Normatif
merupakan sistem-sistem yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam menga,mbil keputusan yang menyangkut baik atau buruk. Etika ini dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Etika umum yang menekankan pada tema-tema umum.
b. Etika khusus/etika terapan, penerapan prinsip-prinsip umum kedalam perilaku manusia yang khusus.
3.Metaetika
merupakan kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan etis. Metaetika iini menganalisis logika perbuatan dengan kaitan dengan baik atau buruk.
Selain itu ada pendekatan dalam mengetahiu etika yaitu dengan pendekatan kritis. Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkapkan kerancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral.
Permasalahan moral ada karena manusia itu bebas. Kebebasan yang seperti apa? Akar kebebasan merupakan kemampuan manusia untuk menentukan diorinya sendiri. Ini sering disebut segi eksistensial. Kebebasan itu terungkap dan mencapai realitasnya yang sepenuhnya dalam tindakan yang berakar dalam kebebasan batin tetapi terwujud dalam dimensi lahiriah. Tetapi, kebebasan eksistensial ini hanya dapat bergerak sejauh manusia lain tidak menghalang-halanginya.
Dalam kebebasan, yang sering dipakai adalah etika normative, dimana etika normative meliputi etika wahyu, etika peraturan, dan etika situasi. Etika wahyu banyak memberikan bimbingan dan motivasi kuat kepada kita., tetapi kita tetap harus menggunakan akal dan budi kita untuk memahami apa yang dituntut dari kita secara moral. Untuk etika peraturan merupakan etika yang melihat hakikat moralitas dalam ketaatan terhadap sejumlah peraturan. Banyak dari isi peraturan itu bagi kita masuk akal dan kita akui sebagai kewajiban moral. Maka masalah etika peraturan bukan pertama-tama isinya melainkan paham yang mendasarinya. Menurut etika peraturan, moralitas manusia tidak lebih daripada mengetahui peraturan-peraturan moral itu dan hidup sesuai dengannya. Sementara untuk etika situasi merupakan sebuah pendekatan dan teori dalam etika yang sangat dipengaruhi oleh filsafat eksistensialisme edan personalisme.Etika situasi menegaskan bahwa setiap orang dan setiap situasi adalah unik, maka tanggung jawab kita tedrhadapnya tidak dapat disalurkan melalui norma-norma dan peraturan-peraturan moral yang umum.
Ada beberapa aliran dalam etika, yaitu:
1. Hedonisme Etis
Aliran ini bertolak dari anggapan bahwa manusia hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ia dapat semakin bahagia. Yang khas dari hedonisme adalah anggapan bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari perasaan-perasaan menyenangkan sebanyak mungkin dan sedapat-dapatnya menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak.
2. Etika Pengembangan Diri
Orang hanya dapat menjadi manusia yang utuh kalau nilai jasmani dan rohani telah tercukupi dengan baik, baik itu nilai-nilai kebenaran dan pengetahuan, kesosialan, tanggung jawab moral, eststis maupun religius. Suatui usaha sangat berharga untuk menyusun nilai-nilai dan menjelaskan makna bagi manusia yang menurut Max Scheler adalah dengan etika.
3. Utilitarisme
Utilitarisme sering dianggap sebagai etika sukses yaitu etika yang menilai kebaikan orang dari apakah perbuatannya menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak. Etika sukses ini merupakan penyelewengan dari etika yang sebenarnya karana mutu atau kualitas moral suatu tindakan tidak tergantung pada apakah tujuannya mencapai tujuan atau tidak.
II. PEMBAHASAN
Batasan secara umum dari pendidikan adalah merupakan suatu usaha sadar, sengaja dan bertanggungjawab yang dilakukan pendidik terhadap anak didik ke taraf yang lebih maju. Jadi inti dari pendidikan adalah sebuah proses transformasi dari tidak tahu menjadi tahu dalam menangkap realitas yang ada. Manusia telah diberi kesempurnaan oleh Allah sehingga manusia mempunyai alat untuk menengkap realitas yaitu dengan Indera. Indera menjadi alat yang penting bagi manusia untuk mengetahui, namun indera hanya semata-mata tidak dapat dijadikan andalan bagi terwujudnya pengetahuan yang benar. Memang tidak bisa dipungkiri kemempuan maupun kepekaan indera akan mempengarihi kualitas maupun kuantitas tangkapan.
Naluri. Naluri pada dasarnya merupakan kekuatan untuk untuk mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupan biologis kemakhlukan. Manusia sebagai makhluh "mulia" tidak cukup hidup dengan nalurinya, karena kehiodupannya bukan hanya sekadar "terlempar kedalam jurang nasib tak bertolak", namun harus menggunakan kekuatan yang lainnya. Hidup manusia adalah bertugas mengembangkan bahkan kalau perlu menguibah nasibnya. Menurut Sigmund Freud, naluri merupakan representasi psikologis bawaan dari keadaan tegang dan terangsang (eksitasi) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh. Naluri akan menghimpun sejumlah energi psikis apabila suatu kebutuhan muncul, kemudian naluri akan mendorong individu untuk bertindak kearah pemuas kebutuhan.
Rasio. Rasio menjadi kekuatan yang penting yang memiliki kemampuan untukmemahami hukum alam yag kemidian dikembangkan menjadi logika yang seacra prinsip menyebutkan bahwa kwsimpulan dapat diambli berdasarkan alasan yang kuat.
Imajinasi. Imajinasi yang estetikakan mendorong bagi meningkatnya taraf ke jenjang imajinasdi kreatif. Akareatifitas muncul melalui keberanian bertindak inkonsisten dan itu hanya ada apabila imajinasi bekerja secara optimal.
Hati Nurani. Hati nurani erat kaitannya dengan etika dimana etika dan hati nurani ini berjalan berdampinagn untuk menjawab persoalan yang tidak berkutat pada sekadar bisa atau tidak bisanya manusia mengembangkan kemampuannya.
Perlu diingant bahwa realitas tertinggi adalah realitas ilahiyah sebagai puncak seluruh realitas. Upaya keilmuan adalah upaya yang secara sistematik dilakukan manusia dengan struktur yang tertata,mengoptimalisasikan seluruh kemampuan manusia dan menggunakan metode yang sesuai dengan tahapan realitas tersebut.
Sekali lagi ditekankan bahwa kebenaran ilmu tidak dapat dicapai selama manusia membatasi diri pada lingkungan pengalaman langsung yang sempit.Karya para ilmuwan bukan hanya sekadar mengumpulkan fakta, melinkan karya teoritik dan itu tentu saja bermakna konstruktif. Hal itu merupakan sesuatu yang yang dapat menunujukan kemampuan tertinggi manusia dan namun juga sekaligus menunjukkan batas-batas kodrati manusia.
Penerapan dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dabn kadang-kadang kita akan mempunyai pengaruh pada proses selanjutnya. Sebenarnya tugas terpenting dari ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh dapat mencapai pengertian tentang martabat dirinya.Tanggung jawab etis beserta kesadaran etisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan akan dapat membimbing untuk menentukan dan memutuskan apakah keputusan tindakan manusia yang berupa ilmu pengetahuan sesuai dengan aturan main.
III. PENUTUP
Kemanfaatan merupakan faktor penting dalam pertimbangan hidup, perilaku dan keputusan tindakan manusia. Ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia yang secara khusus dengan objek tertentu, terstruktur, tersistematis menggunakan seluruh potensi kemanusiaan dan dengan metode tertentu,menyingkap tabir yang menutup realitas.
Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa hasil-hasil pengolahan ilmu pengetahuan dan teknologi juga dapat menimbulkan aspek-aspek negatif. Tetapi kita sebagai manusia yang memilikietika seharusnya dapat memilah-milah mana yang harus digunakan. Pengetahuan tidak hanya sebuah cara untuk mengeksploitasi alam ini, oleh karena itu dalam berpengetahuan harus menggunakan etika.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Achmad Charis Zubair.2002.Dimensi Etik dan Aksetik Ilmu Pengetahuan Manusia.Yogyakarta.Lesfi
Ahmad Syadali dan Mudzakir.2004.Filsafat Umum.Bandung:Pustaka Setia
Bernard Delfgaauw.1992.Sejarah Singkat Filsafat Barat(terj:Soejono Soemargono).Yogyakarta:Tiara Wacana
M. Amin Abdullah.2002.Antara Al-Ghazali dan Kant(Filsafat Etika Islam).Bandung.Mizan
Franz Magnis Suseno.1987.Etika Dasar(Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral).Yogyakarta:Kanisius
Sri Rumini.1993.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta.UPP IKIP Yogyakarta
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir.2001.Filsafat Ilmu.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites